Mari memulai Urban Farming

Dari mana memulai tani kota urban farming
Dari mana memulai tani kota urban farming

Secara sederhana, urban farming dapat diartikan sebagai sebuah tehnik pertanian didalam kota yang memanfaatkan ruang sempit disetiap sudut pekarangan yang bertujuan untuk menghasilkan tanaman yang berkualitas dan atau menghasilkan nilai ekonomis.

Sejak masyarakat Machu Pichu memperkenalkan arsitektur bertingkat yang memanfaatkan air bekas pakai untuk digunakan kembali pada tanaman dibawahnya, pertanian di perkotaan terus mengalami evolusi. Dari yang sekedar memanfaatkan air bekas pakai, pemenuhan kebutuhan sehari-hari pada masa perang dunia ke 1 dan 2, pemenuhan kebutuhan harian rumah tangga hingga sekedar memenuhi pekarangan rumah dengan tanaman-tanaman hias.

Di Indonesia sendiri prinsip urban farming justru dimulai di pedesaan dimana di pelosok-pelosok desa ibu-ibu menanam kebutuhan harian mereka seperti tomat, cabai, daun bawang dan sawi di pekarangan rumah. Tujuannya untuk mengirit pengeluaran rumah tangga. Ide ini kemudian ditularkan ke anak-anaknya. Pada tahun 70 an, saya sendiri sempat merasakan manisnya tomat dari pekarangan rumah tetangga di daerah Manggarai, Jakarta Selatan. Ramai, kala itu, tetangga disekitar menanam tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan harian mereka.

Sejak sepuluh tahun terakhir, urban farming atau tani-kota mulai kembali semarak di tanah air. Komunitas-komunitas yang menerapkan tani-kota pun mulai banyak. Peminatnya mulai bermunculan. Dari yang sekedar nge-like ide-ide tani-kota di media sosial hingga yang mempraktekkan tani-kota ini di pekarangan rumah.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana memulai tani-kota?

Jawaban paling sederhana atas pertanyaan ini adalah kembali pada kebutuhan kita masing-masing: apa yang mau ditanam?

Sejumlah orang memulai tani-kota dengan tanaman-tanaman seperti tomat, cabai merah, cabai rawit, terung, dan kemudian diselingi dengan sawi putih, pakchoy, brokoli, dan lain sebagainya. Pilihan ini dikembalikan pada diri kita, mana yang lebih sering dikonsumsi.

Memulai Tani-Kota

Langkah 1

Sudah menentukan pilihan tanaman? Kalau belum, pilihlah kombinasi tanaman yang sering digunakan seperti cabai merah, tomat, sawiputih dan brokoli. Bila kita menanam langsung ditanah, kombinasi tanaman akan saling mempenagruhi. Baca kembali ulasan saya tentang kombinasi tanaman agar kita memperoleh hasil yang maksimal. Namun bila kita akan menanam didalam pot, kombinasi tanaman ini tidak terlalu mempengaruhi.

Langkah 2

Rendam benih yang anda miliki di air suam-suam kuku atau maksimal 40 derajad celcius. Biarkan semalaman (12 jam). Perhatikan, mana benih yang mengapung dibuang saja. Benih ini tidak akan tumbuh. Kalaupun tumbuh tidak akan memberikan hasil yang maksimal.

Siapkan media semai. Media semai yang terbaik adalah yang berasal dari sekam bakar. Bila tidak ada bisa menggunakan serasah bambu. Bila tidak ada juga bisa menggunakan tanah yang sudah di hancurkan lalu di goreng di wajan untuk mematikan mikroba-mikroba pengganggu. Penggunaan media-media ini bisa membantu prosentase tumbuh benih hingga 70 persen bila dibanding menyemai di tanah secara langsung. Hal yang perlu diingat adalah, jangan mencampur media semai dengan pupuk kandang, apalagi pupuk kimia.

Setiap benih memiliki waktu kecambah berbeda-beda. Ada yang 7 hari sudah mulai muncul tunas dan ada yang 21 hari mulai berkecambah. Biarkan hingga beberapa hari sampai muncul daun skunder. Daun skunder adalah daun yang muncul berikut dari daun kali pertama tumbuh. Biasanya muncul dari ketiak daun primer atau dibawahnya. Bila daun skunder telah muncul, maka benih siap dipindahkan.

Langkah 3

Siapkan media tanam dalam polybag-polybag kecil. Isi dengan serasah bambu atau campuran tanah dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Penggunaan polybag sebetulnya tidak diperlukan apabila media tanam anda telah siap semuanya. Pembesaran tanaman di polybag hanya membantu anda untuk perawatan atau penyisipan tanaman yang gagal tumbuh.

Bila anda menanam di tanah, galilah tanah sedalam 15 cm lalu taburi dengan pupuk kandang ayam setinggi 10 cm lalu tutup kembali dengan tanah tipis-tipis setinggi 5 cm sampai pupuk kandang tidak lagi terlihat. Pindahkan tanaman dengan hati-hati. Basahi terlebih dahulu media semai agar tanah yang menempel pada perakaran dapat ikut pindah.

Hal yang penting untuk diperhatikan adalah jangan sampai perakaran terputus saat dipindahkan. keuntungan menggunakan polybag adalah pada saat pemindahan tanaman ini. Kita hanya cukup membasahi media semai lalu merobek polybag dan memindahkan seluruh isi media semai dan memindahkannya ke media tanam.

Mengapa menggunakan pupuk kotoran ayam? Mengapa tidak dari kotoran kambing. Baca kembali ulasan saya tentang jenis-jenis pupuk kandang.

Langkah 4

Siramlah tanaman yang ada dengan hati-hati. Jangan langsung mengucuri tanaman muda secara langsung karena batang yang masing lemah. Siramlah pada pagi atau sore hari. Biarkan tanaman tumbuh berkembang hingga hari ke 20 setelah tanam (HST-hari setelah tanam). Tambahkan pupuk kandang kambing disekitar perakaran. Lihat ulasan saya tentang tehnik pemupukan.

Langkah 5

Media semai yang sudah digunakan jangan dibuang. Setelah 10 hari pemindahan tanaman ke media tanam, kini saatnya anda menyemai tanaman yang sama. Dengan cara ini anda akan memanen tanaman terus menerus dan tidak berhenti. Tambahlah beberapa beih baru untuk memperkaya jenis tanaman yang anda miliki.

Sekarang anda sudah memiliki bank makanan dan menerapkan tani kota. Setelah mempelajari dan mempraktekkan secara langsung, mengapa tidak bereksperimen dengan tehnik hidroponik atau aquaponik. Tehnik ini tidak membutuhkan media tanam yang luas namun butuh investasi awal yang cukup besar. Keuntungannya lagi, hasil tanaman anda akan bersih dari segala tanah dan mikroba pengganggu.

Selamat mencoba