Memenuhi kebutuhan cabai rumah tangga kecil

Cabai di Jendela Dapur
Cabai di Jendela Dapur

Kebayang kan kalau lagi masak lalu butuh cabai dan ngeliat isi kulkas ternyata persediaan cabai habis? Hadeuh… mau kepasar waktu sudah mepet, minta tetangga rasanya malu-maluin. Nah untuk menghindari situasi yang nggak ngenakin, kenapa enggak nanam sendiri cabai di pot lalu diletakkan di jendela dapur yang terkena sinar matahari. Pas butuh cabai, tinggal metik.

Menanam cabai di pot itu mudah kok. Semudah memasak nasi goreng. Tentunya dengan urut-urutan perlakuan yang tepat. Nggak bisa loncat-loncat.

Pemilihan Bibi

Yang pertama diperhatikan adalah bibit. Bibit bisa diperoleh dengan dua cara. Pertama dari cabai yang kita beli di pasar. Bila ingin cabai merah, pilihlah yang berwarna lebih gelap. Bila ingin cabai rawit, pilihlah cabai yang sudah memerah. Intinya ketuaan dari cabai yang kita pilihsudah cukup untuk menjadikan benih.

Keuntungan dari cara ini adalah kita bisa memperoleh bibit dengan cara yang gampang. Kerugiannya, yang ada di pasar berasal dari pertanian dengan menggunakan benih F1. Cabai ini memang tidak bisa dijadikan benih untuk penanaman berikutnya. Bisa tetapi untuk skala besar sangat merugikan karena hasilnya yang jauh berkurang dari bibit awal dan rentan terhadap penyakit. Untuk kebutuhan rumah tangga, kemungkinan besar bibit ini sudah mencukupi.

Cara yang kedua adalah dengan memperoleh dari distributor resmi. Anda harus melihat labelnya apakah untuk dataran rendah atau dataran tinggi. Ini berpengaruh pada daya tahan tanaman terhadap lingkungan. Biasanya dijual dalam satu amplop isi 250 benih seharga 125 – 165 ribu. Kebanyakan? Ya bisa dibagi-bagiin tetangga atau disimpan di lemari es untuk penanaman berikutnya.

Kalau menurut anda masih mubazir untuk mendapatkan bibit sebanyak itu, mungkin bisa menghubungi teman saya di Terminal Benih untuk memperoleh bibit lokal. Bibit ini bisa di tanam berulang-ulang tanpa mempengaruhi hasil. Teman saya itu juga punya bibit F1 yang sudah dalam polybag. Jadi hanya tinggal disiapkan pot dan media tanamnya.

Pembenihan

Sudah dapat Bibit? Berikutya adalah penyemaian. Rendam benih yang anda miliki tadi kedalam air hangat 40 derajat celcius. Biarkan selama kurang lebih 24 jam. Setelah 24 jam, coba anda perhatikan, mana bibit yang mengapung dan mana yang tenggelam. Ambil bibit yang mengapung tadi lalu coba gigit2… pedes kan? Hehe jangan digigit. Bibit yang mengapung tadi dibuang saja. Tidak ada gunanya. Ditanam juga tidak akan tumbuh.

Siapkan media semai. Media semai bisa berupa sekam padi atau pasir. Pasir mungkin lebih mudah mendapatkannya. Apapun media semainya, sangrailah terlebih dahulu. Ini untuk menghilangkan bakteri-bakteri yang seringkali merugikan tanam tumbuh. Sangrai di atas wajan kira2 15 menit.

Letakan media semai dalam sebuah wadah. Bekas gelas air minum yang dipotong setengah misalnya. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawahnya. Siram dengan sedikit air lalu masukkan benih tadi sedalam 1.5 cm. Jangan lupa untuk menyirami sedikit air setiap harinya.

Bila asal bibit bagus, maka benih akan mulai berkecambah setelah 1 minggu. Biarkan benih tumbuh hingga 3 helai daun.

Media Tanam

Siapkan media tanam. Media tanam harus mengandung pupuk dasar berupa pupuk kandang. Pupuk ini sangat bagus untuk pertumbuhan tanaman dimasa awal. Bisa juga mengganti media tanam + pupuk kandang ini dengan humus dari serasah bambu. Keduanya sama hebatnya untuk memacu pertumbuhan tanaman.

taruhlah media tanaman ini kedalam sebuah pot plastik diameter 20 cm. Karena yang ingin kita peroleh tidak hanya cabai, tidak adalahnya mengeluarkan sedikit uang untuk membeli pot keramik ukuran yang sama. Selain memperindah ruangan, tanaman diatasnya tentu bermanfaar bagi kita.

Pindahkan benih tadi kedalam pot yang sudah diberikan media tanam. Hati-hati, jangan sampai akar terputus. Siram air sedikit saja agar media tanam mengikat akar dengan baik. Letakkan pot pada daerah yang terkena sinar matahari minimal 4 jam sehari.

Ingat, seperti halnya manusia, tumbuhan juga butuh makanan sesuai dengan umur. Semakin besar tanaman akan membutuhkan pupuk yang lebih banyak dibanding tanaman masih belia. Setidaknya ada tiga unsur yang dibutuhkan tanaman yaitu Nitrogen, Phospat dan Kalium. Ketiganya bisa diperoleh dari alam.

Nitrogen secara sederhana bisa diperoleh dari kecoa. Kecoa? Iya bener. Tanam kecoa yang sudah mati kedalam media tanam. Dalam waktu 7 hari, tanaman anda sudah memperoleh nitrogen. Sudah kejawab kan kenapa kecoa mesti ada?

Phospat?

ni bisa diperoleh dari feses (bahasa gaulnya : tokai). Keringkan terlebih dahulu feses burung sebelum digunakan.

Tidak mau direpotkan dengan yang berasal dari alam? Ya sudah, di toko-toko pertanian juga banyak yang menyediakan pupuk organik. Baca aturan pakai sebelum menggunakan. Terlalu banyak pupuk akan merugikan tanaman. Kebayang kan kalau kita kebanyakan makan… rasanya begah.

Nah, anda sudah punya tanaman cabai sendiri. Lain waktu bila butuh cabai, tidak perlu ke tetangga atau uring2an sepanjang ari. Tinggal buka jendela dapur lalu petika deh cabainya sesuai kebutuhan. Jangan lupa, bulan berikutnya anda menyemai kembali. Masa pembuahan cabai paling lama adalah 4 bulan. Kalau anda menyemai setiap bulan satu kali, maka di dapur anda akan terdapat 4 tanaman cabai yang berbuah terus menerus dan memenuhi kebutuhan anda selamanya. Tidak lagi tergantung dengan fluktuasi pasar.

Jangan lupa, ajak anak anda untuk terlibat. Anak-anak akan sangat antusia bisa melihat tanamannya menghasilkan dan memakan hasil yang dia tanam.

Salam urbanfarming