Budidaya Kentang – Emas Hijau Petani

Budidaya Kentang
Budidaya Kentang

Budidaya tanaman kentang dan cara menanam kentang sama halnya seperti budidaya tanaman sayuran yang lainnya, dimana dalam langkah-langkahnya kita perlu mengetahui karakter tanaman tersebut sebelum memulai membudidayakannya.

Ada beberapa faktor yang harus diketahui dalam melakukan budidaya kentang atau cara menanam kentang karena faktor-faktor ini akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kentang. Faktor-faktor tersebut diantaranya: iklim, tinggi-rendahnya letak geografis, kesuburan tanah, hama dan pathogen serta tumbuhan pengganggu.

Iklim

Tanaman kentang berasal dari daerah subtropika, menghendaki iklim yang khusus, yaitu daerah yang memiliki suhu udara dingin dan lembap. Namun demikian, sinar matahari juga dibutuhkan oleh tanaman kentang.
Karena tanaman kentang sangat peka terhadap air maka untuk memulai penanaman kentang sebaiknya diawali pada akhir musim hujan. Tanaman kentang juga sangat peka terhadap kelembapan dalam tanah, kalau perubahan kelembapan dalam tanah terlalu tinggi maka pengaruhnya akan berdampak pada pertumbuhan umbi yang tidak normal (bentuknya bercabang-cabang).

Waktu tanam kentang yang baik adalah pada akhir musim hujan (sekitar bulan April atau Mei), tetapi apabila ingin menanam pada awal musim hujan (sekitar bulan Oktober atau November) diusahakan pada waktu musim turun hujan usia tanaman kentang sudah berumur dua bulan dan umbinya sudah cukup besar. Begitupun dengan angin yang kencang tidak baik untuk pertumbuhan tanaman kentang, karena batang tanaman kentang tidak kuat sehingga mudah patah atau roboh apabila terkena angin yang kencang.

Tinggi-rendahnya Letak Geografis

Tanaman kentang dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi, yakni lebih dari 500 meter di atas permukaan air laut. Yang paling ideal, kentang ditanam dalam ketinggian antara 1000-3000 meter di atas permukaan laut. Tinggi-rendahnya suatu tempat biasanya berhubungan dengan suhu udara dan kelembapan udara. Perbedaan kelembapan dan suhu udara sangat penting untuk pertumbuhan tanaman kentang.

Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah memegang peranan tyang sangat penting untuk tanaman kentang. Selain sebagai penyangga akar, tanah juga berfungsi sebagai penyedia air, zat-zat hara, dan udara bagi pernafasan akar tanaman.

Tanah yang subur bisa mengoptimalkan perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Factor-faktor yang menyuburkan tanah adalah kandungan air, bahan organic, batuan induk,suhu, organism tanah, keasaman tanah, struktur dan tekstur tanah serta kelengkapan dan ketersediaan zat-zat hara.

Kentang cocok ditanam pada tanah yang gembur, banyak mengandung humus, sedikit berpasir, sedikit mengandung air. Tanaman kentang akan tumbuh ideal pada tanah yang memiliki kesamaan tanah (pH) antara 5-5,5.

Gembur

Kegemburan tanah sangat dikehendaki untuk membantu perkembangan akar tanaman kentang dalam membentuk umbi yang sempurna sehingga bermutu tinggi.

Banyak mengandung humus

Tanah yang banyak mengandung humus bisa mempercepat pertumbuhan tanaman, karena menyimpan zat-zat makanan dalam jumlah yang cukup. Zat-zat makanan sangat diperlukan bagi tanaman kentang sehingga dapat tumbuh subur dan menghasilkan umbi yang besar dan sehat.

Sedikit berpasir

Tanah yang sedikit berpasir bisa menumbuhkan kentang yang berkarbohidrat tinggi dan rasanya menjadi lebih lezat.

Sedikit mengandung air

Tanaman kentang tidak tahan terhadap air yang banyak, terlebih-lebih air yang menggenang. Air yang berlebihan membuat tanaman kentang terserang penyakit kayu.

Biotik

Selain factor-faktor abiotik, yaitu iklim dan tanah, yang perlu diperhatikan juga adalah factor biotic. Hama, pathogen, dan gulma adalah factor biotic yang sering menggagalkan panen kentang.

Cara Menanam Kentang

Hal-hal yang perlu dikerjakan dalam bercocok tanam kentang adalah: pengolahan dan penggarapan tanah, pembibitan, penanaman, penyiraman, pendangiran dan penyiangan serta pembumbunan.
Pengolahan dan Penggarapan Tanah
Tanah yang akan dipakai untuk menanam kentang harus diolah sebaik mungkin. Dalam pengolahan tanah, yang perlu dilakukan adalah:

1. Mencangkul tanah

Tanah harus dicangkul sedalam 30-40 cm. setelah dicangkul, tanah dibiarkan beberapa hari agar mendapat sinar matahari sehingga peredaran udara lancer serta hama dan bakteri bisa terbunuh.

2. Menggemburkan tanah

setelah dicangkul, tanah harus dilembutkan dan digemburkan. Tanaman kentang hanya bisa tumbuh dengan baik pada tanah yang gembur sekali. Dalam tanah yang gembur, akar kentang sebagai asal terjadinya umbi bisa berkembang secara maksimal. Tanah yang kurang gembur dapat menghambat proses terjadinya umubi. Untuk menggemburkan tanah dapat digunakan cangkul berukuran sedang atau garu.

3. Membuat bedengan

Bedengan perlu dibuat sebagai tempat penanaman kentang. Bedengan bisa memudahkan petani untuk memelihara tanaman kentang. Dengan bedengan, tanaman kentang tidak akan tergenang air jika hujan turun.

Bedengan sebaiknya dibuat membujur kea rah barat-timur. Lebarnya lebih kurang 70 cm (untuk satu jalur tanaman) atau 140 cm (untuk dua jalur tanaman). Panjangnya disesuaikan kondisi tanah. Tinggi bedengan lebih kurang 15 cm. parit bedengan lebarnya lebih kurang 25 cm.

Parit-parit bedengan selain berfungsi sebagai jalan untuk merwat tanaman, juga sebagai saluran air. Oleh karena itu, parit-parit bedengan ini dibuat sedemikian rupa agar air dapat mengalir lancer bila turun hujan.

4. Membuat saluran air

Saluran air dibuat untuk pembuangan dan untuk mengalirkan air. Hal ini dimaksudkan agar air tidak menggenang di parit-parit bedengan.

Tanaman kentang sangat peka terhadap air, terlebih-lebih sejak penanaman sampai berumur dua bulan. Akar tanaman kentang yang tergenang air akan membusuk, kemudian tanaman kentang pun layu.

5. Meratakan tanah

Proses mertakan tanah ini perlu dilakukan agar permukaan bedengan rata atau datar dan tidak terdapat bongkahan-bongkahan tanah lagi.

Pembibitan

  • Bibit sangat menentukan keberhasialan penanaman. Bibit yang baik kemungkinan besar akan membuahkan kesuksesan penanaman. Sebaliknya, bibit yang kurang bagus pasti hasilnya akan mengecewakan.
  • Kentang ditanam melalui umbinya langsung pada lahan tanpa melalui proses persemaian terlebih dahulu. Jauh sebelum penanaman, bibit-bibit harus dipersiapkan terlebih dahulu. Pilihlah umbi-umbi kentang yang baik, besar, dan tidak banyak matanya.
  • Umbi yang kecil tak boleh dipergunakan sebagai bibit, sebab matanya kurang kuat dan persediaan makanan hanya sedikit sehingga tunas yang tumbuh sudah mati. Selain itu, umbi yang kecil ada kemungkinan berasal dari umbi yang sakit. Umbi yang besar bisa dibelah menjadi dua.
  • Simpanlah bibit kentang di tempat yang kering dan berhawa segar. Penyimpanan di dalam bakul, lakukan di atas asap, ini berlangsung kurang lebih tiga bulan.

Penanaman

Karena tanaman kentang tidak memerlukan persemaian, maka setelah memilih bibit yang baik dan disimpan dengan cermat, maka kemudian akan muncul titik-titik tumbuh. Hal ini menjadi pertanda bahwa bibit sudah bisa ditanam. Bibit bisa langsung ditanam ditempat yang telah dipersiapkan.

Yang harus dikerjsakan terlebih dahulu dalam penanaman, yaitu membuat lubang-lubang tanaman berupa alur-alur silang. Kemudian, pada titik pertemuan sialang itulah nantinya bibit kentang ditanam.

Agar pertumbuhan tanaman dapat sempurna, maka jarak tanaman harus diatur sebagai berikut:
• Jarak antara baris 50-65 cm
• Jarak tanam di dalam baris 30-40 cm
• Dalamnya tanaman masuk ke tanah 5-10 cm

Pada tanah berat, bibit ditanam lebih dangkal. Demikian pula pada musim penghujan, bibit ditanam lebih dangkal agar tidak banyak terendam air. Tetapi, sebaliknbya, pada musim kemarau bibit kentang ditanam lebih dalam agar tidak mengalami kekeringan.
Dalam proses penanaman, tiap-tiap lubang tanaman diberi pupuk kandang sebanyak 0,5 kg. dalam satu hektar tanaman kentang diperlukan pupuk kandang 20-30 ton.

Letakkanlah bibit-bibit kentang di atas pupuk kandang dengan kedalaman 7,5-12,5 cm. Usahakan agar tunas-tunasnya menghadap ke atas. Pada sebelah kanan dan kirinya, berilah pupuk DS dan ZA sejauh kurang lebih 5 cm dari bibit, yaitu disebelah kanan diberi pupuk DS sebanyak kira-kira 16 gram dan di sebelah kiri diberi pupuk ZA sebanyak lebih kurang 16 gram juga. Kemudian, tutplah lubang-lubang tanam dengan tanah. Dalam satu hektar tanaman kentang diperlukan lebih kurang 80-900 kg DS dan ZA.

Dengan lahan seluas satu hektar diperlukan bibit kentang sebanyak 1200-1500 kg yang berat tiap umbinya antara 30-40 gram.
Setelah lebih kurang 10-12 hari kemudian, maka bibit kentang mulai tumbuh rata di atas tanah.

Penanaman kentang juga bisa dilakukan tanpa membuat bedengan, yakni langsung di atas tanah yang tersedia. Langkah-langkah yang perlu dilakukan:

  • • Mula-mula tanah digemburkan dan diratakan terlebih dahulu. Kemudian, buatlah lubang tanaman seperti di atas. Lalu, tanamlah bibit kentang pada lubang-lubang yang telah disiapkan.
  • • Setelah bibit ditanam, kemudian tanah di bagian kanan dan kiri barisan tanaman ditimbunkan pada bibit yang baru ditanam sehingga membentuk gundukan tanah yang memanjang.

Lebar parit-parit anttara gundukan tanah sama seperti parit-parit bedengan, lebih kurang 25 cm, dan tinggi kira-kira 15 cm.

Penyiraman

Tanaman kentang idak menghendaki kekeringan, meskipun sangat peka terhadap air yang berlebihan, terutama air yang menggenang. Jika terlalu kering, maka suhu tanah akan menjadi panas dan kelembabannya turun. Umbi kentang memerlukan suhu dingin dengan kelembaban yang tinggi. Pada tanah yang suhu dan kelembabannya tidak stabil, tanaman kentang akan menghasilkan umbi yang bentuknya tidak menarik dan benjol-benjol.

Penyiraman kentang harus diperhatikan, terutama bila tidak turun hujan. Apalagi pada musim kemarau.

Pendangiran dan Penyiangan

Setelah tanaman kentang berumur kira-kira satu bulan, maka perlu dilakukan pendangiran. Yakni, tanah disekitar tanaman perlu digemburkan agar peredara udara menjadi lancer. Dengan demikian, pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik,. Rumput-rumput yang ada di sekitar tanaman juga perlu dibersihkan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman kentang.

Proses penggemburan juga disertai dengan peniggian gundukan tanah atau bedengan agar umbi tanaman selalu terkubur. Umbi kentang yang tidak tertutup tanah akan berwarna hijau dan kualitasnya rendah.

Pembumbunan

Setelah tanaman kentang berumur 3-4 minggu, maka perlu dilakukan pembumbunan, yakni proses peninggian tanah. Pembumbunan akan memberikan keuntungan bagi tanaman, antara lain:

  • • Akan merangsang pembentukan akar baru sehingga umbi kentang yang dihasilkan bisa semakin banyak.
  • • Membantu perkembangan umbi
  • • Memperkokoh berdirinya batang
    Tetapi, perlu diperhatikan bahwa pembumbunan yang dilakukan tidak boleh terlalu tinggi karena bisa mengganggu pernapasan tanaman kentang di dalam tanah.

Budidaya kentang di dataran tinggi

Kentang (Solanum tuberosum L.) termasuk tanaman berkeping dua (dikotil) dari keluarga Solanaceae. Tanaman ini merupakan tanaman semusim dan mempunyai kemampuan berkembang biak secara vegetatif melalui umbi. Budidaya kentang akan tumbuh subur pada daerah beriklim dingin, suhu udara yang tinggi menyebabkan tanaman tidak dapat membentuk umbi. Ketinggian yang baik untuk budidaya kentang berada pada kisaran 1000-2000 meter dari permukaan laut dengan suhu 14-22 derajat celcius. Curah hujan yang baik selama periode pertumbuhan tanaman kentang adalah 1000-1500 mm. Apabila curah hujan terlalu tinggi bisa menyebabkan kebusukan pada umbi.

Budidaya kentang di Indonesia, pertamakali dilakukan pada abad ke-18 di Cibodas, Lembang, Pangalengan dan Tengger. Kemudian menyebar ke wilayah Sumatera tepatnya di dataran tinggi kerinci. Saat ini banyak tempat di Indonesia menjadi sentra budidaya kentang. Prospek usaha budidaya kentang sangat menjanjikan.

Pengolahan tanah

Pertama-tama hal yang harus perhatikan dalam budidaya kentang adalah keadaan tanah yang akan dipakai, apakah keadaan tanah gembur atau padat. Untuk tanah yang padat diperlukan pembajakan atau pencangkulan dengan kedalaman kurang lebih 30 cm. Setelah selesai dibajak tanah didiamkan selama 2-3 hari, kemudian digaru sedalam 5 cm, lalu diamkan selama satu minggu. Untuk kondisi tanah yang gembur, pengolahan cukup dengan digaru saja, lalu biarkan selama satu minggu. Waktu pembiaran sampai satu minggu bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah.

Perlu juga diperhatikan kondisi kelembaban tanah. Kentang merupakan tanaman yang sensitif, keadaan tanah tidak bisa terlalu basah atau terlalu kering. Banyak usaha budidaya kentang yang kandas karena tidak memperhatikan kelembaban tanah. Apabila kondisi tanah basah, siapkan sistem irgasi berupa garitan yang agak ditinggikan. Bila kondisi tanah kering lakukan penyiraman. Setelah lewat satu minggu tanah diratakan dan dibuat garitan. Lebar garitan umumnya 80 cm dengan ketinggian 5 cm.

Pemupukan tanaman kentang

Pada permukaan garitan tebarkan pupuk kandang, atau dapat juga dibuat lubang-lubang untuk menempatkan pupuk secara terpusat untuk menghindari tergerusnya pupuk. Pemberian pupuk kandang yang ideal untuk budidaya kentang adalah 20-50 ton per hektar, tergantung pada tingkat kesuburan tanah. Selain pupuk kandang, tambahkan NPK Organik (FerreSoil)sebanyak 350kg per hektar. Cara pemberian NPK Organik (FerreSoil) bisa disebar atau secara terpusat dengan membuat lubang-lubang dekat umbi yang ditanam pada garitan.

Penanaman bibit kentang

Sebelum siap ditanam, umbi bibit harus disimpan dulu selama kurang lebih tiga bulan. Fungsinya agar umbi tersebut ketahuan sudah bisa bertunas dengan baik, karena umbi kentang mempunyai masa dormasi. Umbi yang telah bertunas, lakukan seleksi pemangkasan tunas. Tunas yang panjangnya lebih dari 2 cm dibuang, karena tunas yang terlalu panjang kurang baik untuk ditumbuhkan. Berat umbi yang baik untuk bibit berkisar 30-50 gram per buah.

Letakan umbi yang telah dipangkas dalam garitan, diatas pupuk yang telah disebar atau didekat lubang-lubang yang telah dikasih pupuk. Jarak tanam dalam garitan berkisar 20-30 cm. Setelah umbi diletakan, timbun dengan tanah sehingga membentuk guludan setinggi 10-15 cm. Biarkan bagian kiri dan kanan guludan membentuk parit untuk drainase.

Pemeliharaan tanaman kentang

Tindakan pemeliharaan terdiri dari penyiraman, pengguludan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit tanaman. Periode pemeliharaan tanaman dalam budidaya kentang memerlukan tingkat kecermatan yang tinggi. Pemeliharaan tanaman kentang harus disiplin dan taat jadwal.

Penyiraman tanaman

Penyiraman dilakukan sesuai dengan kondisi tanah dan cuaca. Di daerah lembab dan sering turun hujan, relatif tidak memerlukan penyiraman. Apabila keadaan tanah terlihat kering baru lakukan penyiraman, namun harus diperhatikan kondisi tanah jangan sampai terlalu basah, apalagi sampai tergenang.

Penyiangan gulma

Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan perbaikan guludan. Biasanya dilakukan setelah satu bulan penanaman. Gulma bisa dibersihakan dengan sabit atau koret, setelah gulma dibersihkan guludan diperbaiki. Penyiangan gulma berikutnya dilakukan setelah tanaman berumur dua bulan. Setelah itu, tidak diperlukan lagi penyiangan, karena tajuk tanaman sudah rimbun sehingga gulma sulit tumbuh.

Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit merupakan hal yang sangat penting dalam budidaya kentang. Produktifitas tanaman kentang sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan tanaman. Penyemprotan fungisida maupun insektisida dimulai sejak tanaman berumur 10 hari. Interval penyemprotan dilakukan dua kali seminggu, atau tergantung dari gejala kerusakan yang terlihat.

Obat-obatan yang diberikan berupa fungisida (dithane dan vondozeb) dan insektisida (hostathion). Konsentrasi yang dianjurkan sesuai dengan petunjuk penggunaan pada label. Selain dengan penyemprotan, pengendalian hama dan penyakit bisa dilakukan juga dengan rotasi tanaman. Lakukan pergiliran tanaman dengan tanaman kacang-kacangan atau palawija. Waktu rotasi tanaman diperlukan sekurang-kurangnya 2-3 tahun, baru lahan bisa ditanamai tanaman kentang lagi.

Jenis-jenis hama dan penyakit yang biasa ditemukan dalam budidaya kentang di Indonesia antara lain:

  • • Busuk daun (Phytophthora infestans)
  • • Penyakit layu bakteri (Pseudomonas Solanacearum)
  • • Bercak lunak (Altenaria Solani)
  • • Penyakit layu fusarium (Fusarium Oxysporum)
  • • Virus gulung daun (PLRV)
  • • Root knot nematodes (Meloidogyne Spp.)
  • • Ulat gulung (Phthorimae Operculella)
  • • Pekung (Rhizoctonia Solani)
  • • Virus (Virus X, Virus Y, Virus S)
  • • Oteng-oteng (Epilachna Puntata)
  • • Ulat tanah (Agrotis Ipsilon)
  • • Kutu daun hijau (Myzus Persicae dan Aphis Nasturtii)
  • • Orong-orong (Cryllotalpa Sp.)

Pemanenan budidaya kentang

Umur tanaman kentang sampai siap panen bergantung pada jenis varietas, tinggi lahan dan musim. Secara umum satu siklus budidaya kentang sampai umbi siap dipanen antara 80-120 hari. Pemanenan harus diperhatikan, jangan terlalu dini atau terlalu tua. Panen yang terlalu dini, membuat kualitas kentang rendah karena pembentukan karbohidrat dlam umbi masih belum optimum. Sedangkan pemanenan yang terlalu tua meningkatkan resiko umbi kentang terserang penyakit dan rusak.

Untuk mengecek kesiapan panen, umbi kentang digali secara acak. Pengambilan sampel harus dilakukan secara merata sehingga mewakili lokasi tanam. Umbi yang sudah diambil dilihat tingkat kematangannya. Atau, bila kita sudah terampil bisa dengan cara memperhatikan bentuk dan warna daun. Tanaman yang siap panen, warna hijau daunnya mulai pudar dan terlihat kering.

Pemanenan bisa dilakukan dengan garpu, dalam hal ini harus diperhatikan benar jangan sampai garpu melukai bagian umbi. Apabila takut umbi rusak terkena sosokan garpu, pemanenan bisa dilakukan dengan kored, atau cangkul tangan. Dengan alat ini resiko kerusakan lebih kecil, namun proses panen lebih lama. Setelah umbi digali, biarkan beberapa saat atau jemur untuk beberapa saat. Sehingga lapisan tanah yang menyelimuti umbi mudah dibersihkan. Lalu kemas umbi kentang kedalam karung atau keranjang.

Budidaya Kentang di Dataran Rendah

Selama ini, masyarakat atau petani umumnya hanya mengenal kentang dibudidayakan di dataran tinggi. Soalnya, tanaman yang nama latinnya Solanum tuberosum banyak terlihat ditanam petani daerah pegunungan dengan tinggi tempat sekitar 1.000 – 3000 m dpl (di atas permukaan laut). Oleh karena itu, komoditas hortikultura tersebut merupakan tanaman yang sangat penting bagi petani dataran tinggi atau petani yang tinggal di daerah pegunungan.

Kenapa sangat penting? Soalnya, kentang selain mendatangkan penghasilan yang lebih baik dibanding dengan jenis sayuran lain pada umumnya seperti kubis dan tomat, hasil panen kentang dapat disimpan relatif lebih lama sambil menunggu harga jual yang pantas sehingga dapat mengantongi rupiah yang lumayan banyak.

Meski begitu, bukan berarti kentang tidak dapat dibudidayakan di dataran rendah. Di dataran rendah pun, komoditas hortikultura penghasil umbi itu memungkinkan untuk dibudidayakan dengan hasil yang lumayan, asalkan lahan yang akan ditanami itu memenuhi syarat untuk tumbuhnya varietas kentang yang akan ditanamnya.

Lahan dataran rendah yang memungkinkan untuk ditanami kentang adalah lahan yang terletak pada ketinggian tempat kurang dari 700 m dpll.

Lahan dengan ketinggian tempat seperti ini bisa saja ditanami kentang, asalkan memenuhi persyaratan :

(1) Jenis tanahnya Latosol atau Alluvial;
(2) Suhu udara malam hari 20 – 27 0 C;
(3) Terdapat angin sepoi-sepoi yang menjandikan lingkungan menjadi dingin dan sejuk;
(4) Tersedia air pengairan yang cukup dan lahan tidak kebanjiran; dan
(5) Lahan yang akan ditanami kentang bukan bekas penanaman tanaman Solanaceae atau tanaman pisang.

Ada pun varietas kentang yang dapat dibudidayakan di dataran rendah antara lain varietas Cipanas, DT)-28, LT-1, Cosima dan DTO-33 karena varietas kentang ini toleran terhadap suhu panas.

Masalah

Tidak bedanya dalam budidaya kentang di dataran tinggi, penanaman kentang di dataran rendah pun mempunyai beberapa masalah, hanya masalahnya saja yang bisa berbeda.

Beberapa masalah yang bisa muncul dalam penanaman kentang di dataran rendah antara lain :

1. Suhu Udara

Di daerah tropis seperti di Indonesia, suhu udara yang tinggi pada siang mau pun malam hari mengakibatkan pembentukan umbi terhambat. Untuk mengatasi masalah ini bisa dilakukan dengan cara menutup permukaan tanah penananam kentang tersebut, misalnya dengan mulsa jerami. Dengan adanya penutupan mulsa jerami tersebut, maka suhu tanah dan suhu udara di sekitar batang tanaman menjadi rendah dan kelembabannya meningkat. Dengan kondisi ini maka pertumbuhan tanaman akan lebih baik yang akhirnya umbi kentang dapat tumbuh lebih baik pula.

2. Jarak Tanam

Jarak tanam kentang di dataran rendah upayakan lebih rapat, misalnya 30 X 50 cm. Dengan jarak tanam yang lebih rapat, maka ruang antar tanaman lebih sempit karena pertumbuhan tunas cabang utama lebih cepat dan relatif banyak dibandingkan dengan jarak tanam yang lebih jarang.
Tanaman kentang yang ditanam dengan jarak yang lebih lebar yang selama ini dilakukan petani, misalnya 30 X 70 cm akan menyebabkan ruang antar tanaman lebih terbuka karena pertumbuhan tunas cabang utama lebih lambat dan sedikit.

3. Serangan Penyakit Layu bakteri

Kentang yang ditanam di dataran rendah, serangan penyakit layu bakteri umumnya lebih parah dibandingkan dengan kentang yang ditanam di dataran tinggi. Untuk mengatasi hal ini antara lain dapat dilakukan dengan membuat selokan draenase yang selalu berfungsi baik sehingga air yang berlebihan mudah terbuang. Selain itu, gunakan pupuk kandang yang benar-benar sudah masak/matang.

4. Mudah Tergenang Air

Tidak diragukan lagi, kentang yang ditanam di dataran rendah, pada musim hujan tanaman mudah tergenang air, apalagi jika hujannya deras dan lahan penanaman kentang draenasenya jelek atau kurang berfungsi baik dalam mengalirkan air yang berlebihan. Oleh karena itu untuk menghindari tanaman kentang tergenang air, buat draenase yang dapat mengalirkan air dengan baik sewaktu hujan sehingga air yang berlebihan mudah terbuang dari areal pertanaman kentang.

Supaya kentang tidak mudah tergenang air, tanamlah kentang pada musim kemarau, tetapi tanaman tetap mendapatkan air dengan cukup atau ditanam pada akhir musim hujan ketika air masih tersedia cukup.

Penanaman

Penanaman kentang di dataran rendah tidak jauh berbeda dengan cara penanaman kentang di dataran tinggi. Pada garis besarnya, lahan diolah dan dibuat bedengan dengan lebar 100 – 110 cm. Setelah itu, beri pupuk kandang yang matang sebanyak 20 – 30 ton/ha yang dicampur secara merata pada bedengan tempat penanaman kentang.
Pada lahan penanaman kentang buat draenase sedalam 30 cm dan lebarnya juga 30 cm. Dengan ukuran draenase ini, maka air tidak mudah menggenangi pertanaman.

Pekerjaan berikutnya, buat lubang tanam ukuran 10 – 15 cm dengan kedalaman 20 cm pada bedengan yang sudah disiapkan itu. Jarak tanam antar lubang, dalam satu baris 30 cm dan jarak antar baris 50 cm. Dengan cara penanaman seperti ini, maka tiap bedengan berisi dua baris tanaman kentang dengan populasi 66.000/ha. Setelah itu, benih kentang dimasukkan ke dalam lubang lalu diberi pupuk buatan .

Jenis pupuk buatan yang diberikan itu merupakan campuran antara pupuk N (150 – 200 kg), P2O 5 (20 – 180 kg) dan K2 O (100 kg) setiap hektarnya. Sesudah benih kentang diberi pupuk buatan, lubang tanam itu segera ditutup dengan tanah halus.
Untuk penanaman kentang di dataran rendah, gunakan benih kentang yang sudah bertunas sepanjang ± 2 cm karena lubang tanamnya cukup dalam. Dengan benih seperti ini, maka tunas umbi kentang tersebut akan cepat muncul ke atas permukaan tanah.

Benih kentang yang sudah ditanam itu dirawat dengan baik sebagaimana mestinya supaya pertumbuhan kentang optimal sehingga umbi kentang yang diperolehnya nantinya sesuai harapan. Untuk merawatnya, lakukan pengairan atau penyiraman yang cukup, beri pupuk yang memadai, bersihkan gulma yang ada dan lakukan pengendalian hama dan penyakit yang tepat.