Dimulai dengan hobby ngorek-ngorek tanah pekarangan dan menanam apa saja benih yang terlihat. Dari mulai cabe, tomat didapur dsb. hasilnya tidak menggembirakan. Buahnya terlalu sedikit. Belakangan baru tahu kalau semua benih memang sudah dikuasai sehingga kita tidak akan mendapatkan hasil yang sama dari benih turunan. Kita “dipaksa” untuk terus membeli dan bergantung dengan produsen benih.Tapi ya sudahlah, kita bisa pelan-pelan melakukan pemuliaan benih untuk menghilangkan ketergantungan itu.

Tanpa sengaja, tahun 2010 dapat khabar dari kaki Gunung Pangrango, ada orang yang berniat alih tangan lahan garapan seluas 6.000 meter persegi. Nggak pikir panjang kalau pengalaman itu nihil banget, saya putuskan untuk membeli. Sedikit pembersihan, pembalikan tanah dan penyebaran pupuk kandang-kambing lalu ditanami sayuran semusim seperti pakchoy dan caesim. Sedikit demi sedikit lahan mulai berkembang.  Sejumlah petani yang mengalami kesulitan modal kemudian mengajak kerjasama dengan sistem bagi hasil.

Sistem bagi hasil ini ternyata menyenangkan bagi mereka. karena mereka tidak perlu mengeluarkan modal dan hasil yang didapatkan bisa mereka simpan untuk membeli benih berikutnya. Lama kelamaan mereka tidak lagi berbagi hasil dengan saya namun menjadikan kebun saya sebagai markas untuk ngobrol, minum kopi dan bertukar pikiran tentang pertanian. Guru saya, Mbah Google, sangat membantu dalam memberi pencerahan tyehnik-tehnik pertanian.

Awal 2014 saya menerapkan Metode LEISA (low External Input Sustaibale Agriculture). Metode ini berusaha meminimalkan input dan perlakuan pada lahan pertanian. Rumput yang tumbuh hanya dibersihkan disekitar perakaran tanaman utama, penggunaan pestisida kimia dikurangi hingga titik nol, pupuk yang digunakan lebih mengarah kepada pupuk organik yang diperoleh dari lahan sekitar dsb.

Tentu tidak semua tanaman dapat diterapkan metoda LEISA. Beberapa tanaman membuttuhkan perlakukan khusus dalam bentuk mulsa.

Penerapan Metode LEISA lebih menguntungkan karena tidak banyak upaya yang mesti dikeluarkan untuk melakukan pembersihan lahan. Otomatis input biaya bisa diperkecil.

April 2014, bersama rekan-rekan petani kami mendirikan Richland. Nama ini dipilih untuk menggambarkan betapa kayanya tanah Indonesia ini. Seperti lagu koesplus… tongkat dan batu bisa jadi tanaman. Tambahan co dibelakang Richland untuk menggambarkan bahwa tanah Indonesia yang kaya ini membutuhkan banyak sahabat untuk dikelola.

Richland mulai mengunjungi kelompok-kelompok petani lain di kaki Pangrango hanya utnuk sekedar berbagai pemikiran dan menambah teman. Sering juga kita diundang untuk berbagi pengetahuan.

Richland & Co. Inilah kami. Sebuah perkumpulan petani kecil. Bergerak dalam bidang pertanian dan peternakan. Punya keinginan sama seperti petani lainnya, memperkecil input dan memperbesar output.

Pagi hari sebelum melayangkan cangkul kami ngobrol tentang apa yang akan dilakukan hari ini dan pada sore hari selepas kerja, ditemani kopi pahit kami bertukar pikiran. Dari mulai ngobrolin tehnik bertani, memutus mata rantai tengkulak hingga ngobrolin masalah negara.

Salam
Rully Syumanda